Media Publication

Le Sangkuriang Republika 03_07_2010 republika

Nada Angklung Menghipnotis 5.000 Orang di Markas PBB Swiss

Jakarta – Sekitar 5.000 orang yang memadati Markas PBB di Swiss dibuat ‘terhipnotis’ oleh alunan nada dari angklung yang dimainkan kelompok Le Sangkuriang. Pentas ini bertepatan dengan ulang tahun ketiga ditetapkannya angklung sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi oleh UNESCO.

Berdasarkan keterangan dari pendamping diplomat Indonesia di Jenewa Swiss, Nia Syihab, Jumat (22/11/2013) pentas ini diadakan oleh United Nations Women’s Guild (UNWG) PBB di Jenewa Swiss dalam rangka Bazar Tahunan.

Le Sangkuriang mempersembahkan tembang dolanan Jawa ‘Gundul-gundul Pacul’ hingga sejumlah lagu populer seperti Michael Jackson berjudul ‘Heal The World’. Lagu-lagu tersebut dibawakan dengan angklung yang diiringi oleh keyboard dan gitar bass. Kelompok Le Sangkuriang sendiri beranggotakan masyarakat Indonesia yang bermukim di Swiss dan sekitarnya.

“Sungguh luar biasa, saya tidak pernah menyangka bahwa tahun ini kami akan mendapakan kejutan besar diperhelatan kami, pertunjukan musik yang begitu mengesankan, unik dan tak pernah terbayangkan. Terima kasih Indonesia” kata Presiden UNWG Kajori Masse-Basu.

Sejumlah pengunjung bertepuk tangan dan berdecak kagum melihat permainan angklung ini. Bahkan para pengunjung langsung menyambangi para pemain angklung usai pertunjukan. Salah satunya pengunjung asal Peru, Flora Gotrret.

“Alat musik sederhana ini bukan saja menghasilkan nada indah. Saya tak pernah menyangka bahwa, satu alat musik hanya menghasilkan satu nada, tidak mungkin bermain sendiri. Memang hidup selalu memerlukan orang lain, dan angklung membawa pesan kemanusiaan untuk dunia, sangat menakjubkan,” kata Gotrret sambil mencoba menggetarkan angklung

http://news.detik.com/read/2013/11/22/233146/2421302/10/?nd772204topnews

Angklung Guncang Markas PBB di Swiss

REPUBLIKA.CO.ID, Alunan nada angklung dengan irama Gundul Gundul Pacul menyedot perhatian pengunjung dari berbagai belahan dunia yang memadati acara  Annual International Bazaar United Nations Women’s Guild (UNWG) di  markas PBB, Jenewa, Swiss.

Penampilan ditutup dengan gemuruh tepuk tangan tiada henti setelah lagu balada Italia ‘O Sole Mio, karangan komponis E.Di Capua, berhasil menghipnotis penonton.

“Sungguh luar biasa, saya tidak pernah menyangka bahwa tahun ini kami akan mendapatkan kejutan besar di perhelatan kami, pertunjukan musik yang begitu mengesankan, unik dan tak pernah terbayangkan, terima kasih Indonesia” ujar Kajori Masse-Basu, President United Nations Women’s Guild (UNWG).

UNWG (United Nations Women’s Guild) adalah suatu perkumpulan dalam lingkungan Persatuan Bangsa Bangsa, yang memfokuskan diri meningkatkan kualitas wanita dalam pergaulan internasional sekaligus melakukan kegiatan sosial untuk kesejahteraan anak dan wanita di seluruh dunia. Setiap tahunnya perkumpulan ini mengadakan International Bazaar  di markas PBB Jenewa, yang diikuti oleh negara negara anggota PBB untuk mendanai sejumlah proyek kemanusiaan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Mardhiah Farid, sekretaris ketiga  Perutusan Tetap Republik Indonesia (PTRI) untuk PBB dan Organisasi Internasional lainnya di Jenewa, menyatakan bahwa seperti tahun tahun sebelumnya, PTRI Jenewa,  menggunakan kesempatan ini untuk mempromosikan berbagai kuliner Indonesia seperti sate, nasi goreng, tahu isi, juga barang kerajinan asli Indonesia seperti batik, tenun, dan perhiasan batu serta tembaga bakar. “Pelaksanaan Bazaar tahun ini terasa lebih special, karena Indonesia diberi kesempatan untuk menampilkan musik tradisionalnya melalui penampilan Les Sangkuriang” tambah Mardhiah.

Bagi kelompok Les Sangkuriang, mendapatkan kesempatan untuk unjuk gigi di markas PBB, yang kebetulan bertepatan dengan 3 tahun angklung diakui dunia melalui UNESCO sebagai a Masterpiece of Oral and Intangible of humanity, seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Ajang ini tidak hanya dimanfaatkan menjadi ajang promosi angklung, namun sekaligus membawa nama Indonesia ke pentas antarbangsa. Terlebih, kelompok ini menjadi satu satunya pengisi acara kategori musik tradisional yang mendapat kesempatan tampil di panggung utama hajatan besar Bazaar UNWG tahun ini, yang setidaknya dihadiri oleh 5000 pengunjung.

“Suka cita tak tergambarkan, semua mata saat itu tertuju kepada angklung, warisan dunia dari Indonesia. Ini bukti nyata bahwa hingga saat ini kesenian tetap mejadi media diplomasi yang ampuh, kami sangat bangga ” ujar Ibu Moeliek Triyono Wibowo, istri dari Wakil Tetap Perutusan Republik Indonesia untuk PBB dan Organisasi Internasional lainnya di Jenewa, Swiss.

http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/11/22/mwmym1-angklung-guncang-markas-pbb-di-swiss

Angklung Guncang Markas PBB Di Swiss

Alunan nada angklung dengan irama Gundul Gundul Pacul menyedot perhatian pengunjung dari berbagai belahan dunia yang memadati acara  Annual International Bazaar United Nations Women’s Guild -UNWG di  markas PBB, Jenewa, Swiss Kamis  waktu setempat. Sekretaris ketiga  Perutusan Tetap Republik Indonesia -PTRI untuk PBB dan Organisasi Internasional lainnya di Jenewa, Mardhiah Farid, menyatakan seperti tahun tahun sebelumnya, PTRI Jenewa,  menggunakan kesempatan tersebut untuk mempromosikan berbagai kuliner Indonesia seperti sate, nasi goreng, juga barang kerajinan asli Indonesia seperti batik, tenun, dan perhiasan batu serta tembaga bakar. Dikatakan, pelaksanaan Bazaar tahun ini terasa lebih special, karena Indonesia diberi kesempatan  menampilkan musik tradisionalnya. Mardhiah Farid  menambahkan, ajang ini tidak hanya dimanfaatkan menjadi ajang promosi angklung, namun sekaligus membawa nama Indonesia ke pentas antarbangsa. Rep/22.11’13/mar

http://voi.co.id/www/multisites/id/voi-berita/4825-angklung-guncang-markas-pbb-di-swiss

http://www.suaramerdeka.com/v2/index.php/read/cetak/2008/06/30/19885/Le-Sangkuriang-dan-Angklung

Le Sangkuriang Tampil di Festival Musik Jenewa

London, (ANTARA News) – Ratusan penonton festival musik “Fete de la Musique” di Jenewa menikmati alunan angklung dari Kelompok Le Sangkuriang yang antara lain membawakan lagu balada Italia, O Sole Mio, karangan komponis E. Di Capua.

Penonton bahkan ikut memainkan alat musik asal Jawa Barat tersebut bersama para pemain Le Sangkuriang. Sebanyak 40 pemain itu adalah warga Indonesia yang tinggal di Jenewa.

Le Sangkuriang dibentuk oleh Kuasa Usaha Ad Interim/Dubes RI di Jenewa, I Gusti Agung Wesaka Puja, kata Sekretaris PT (Perwakilan Tetap) RI Jenewa Yasmi Adriansyah kepada ANTARA London, Selasa.

Selain lagu O Sole Mio, Le Sangkuriang menampilkan lagu Pepito, Song of Doremi, Edelweiss dan lagu daerah seperti Rasa Sayange dari Maluku, Manuk Dadali dan Es Lilin dari Jawa Barat.

Sebelum tampil pada Fete de la Musique, Le Sangkuriang dilatih secara intensif oleh Sam Udjo, seniman angklung dari Saung Angklung Udjo, Jawa Barat. Konduktor Le Sangkuriang dilakukan secara bergantian oleh staf PTRI Jenewa.

Yasmi Adriansyah juga mengatakan Le Sangkuriang akan tampil pada ulang tahun ke-60 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang bermarkas di Jenewa November mendatang.

Fete de la Musique adalah festival musik tahunan yang diikuti berbagai kelompok dengan jenis musik yang beragam tampil di berbagai tempat strategis di kota Jenewa.

Setiap kali diadakan, festival musik ini selalu menyedot perhatian ribuan penonton dan menjadi atraksi tersendiri bagi wisatawan domestik maupun internasional, kata Yasmi Adriansyah. (*)

http://www.antaranews.com/print/106685/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s